IPB Bentuk RFMRC-SEA Pengendalian Kebakaran Hutan Indonesia
Kampus Institut Pertanian Bogor. | IST/Lampungpro.com
Kampus Institut Pertanian Bogor. | IST/L...

IPB Bentuk RFMRC-SEA Pengendalian Kebakaran Hutan Indonesia

JAKARTA (Lampungpro.com): Institut Pertanian Bogor (IPB) membentuk Pusat Data Pengendalian Kebakaran Hutan regional Asia Tenggara (RFMRC-SEA). Hal itu bertujuan guna memberikan informasi dan data secara akurat dalam rangka pengendalian kebakaran hutan.

Prof. Bambang Hero Saharjo dari Fakultas Kehutanan IPB, kepala lembaga independen tersebut mengatakan RFMRC-SEA didirikan untuk menyajikan data dan informasi berdasarkan hasil penelitian yang akurat untuk digunakan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan kawasan Asia Tenggara. "Hasil penelitian kami, salah satu kurang berhasilnya upaya pengendalian kebakaran hutan adalah sedikitnya informasi yang terkait scientific base," kata Bambang, di Jakarta, Senin (10/11/2017).

Bambang, seperti dilansir Antara, mencontohkan jumlah kasus kebakaran hutan di Indonesia pada 2016 yang menurun dibandingkan pada tahun 2017. Dari penurunan jumlah kasus tersebut, lanjut Bambang, bisa diteliti apa faktor-faktor yang menyebabkan penurunan kebakaran hutan. Sehingga, ke depannya bisa dilakukan untuk upaya pengendalian dan pencegahannya.

"Seperti tahun kemarin kita berhasil turunkan kebakaran hutan sekian persen. Sebetulnya itu kenapa, apakah karena semata-mata tugas pemerintah berhasil, atau berapa persen kebakaran di lapangan, atau ditambah juga ada La Nina," jelas Bambang.

Dengan adanya RFMRC-SEA ini, Bambang menjelaskan bisa menjadi bukti ilmiah dari apa yang sebenarnya terjadi pada kasus kebakaran hutan dan lahan. Terlebih, di tengah simpang siurnya informasi yang diterima publik dari pemerintah maupun perusahaan terkait.

RFMRC-SEA juga bisa menjadi sumber informasi baru bagi dampak-dampak yang disebabkan oleh kasus kebakaran hutan yang sebelumnya tidak diketahui oleh publik. "Contoh tim kami terbukti, ternyata asap dari kebakaran hutan itu di Kalimantan Tengah terdiri dari 90 gas, di dalamnya ada 50 gas beracun, ada hidrogen sianida, ada furan dan sebagainya. Itu tidak tersosialisasikan dengan baik," kata Bambang.

Selain melakukan penelitian, lembaga tersebut juga akan menjalin kerja sama di bidang penelitian dengan negara-negara di Asia Tenggara. Bambang mengatakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mendukung RFMRC-SEA terbentuk untuk membantu pemerintah mengupayakan pengendalian kebakaran hutan dengan hasil kebijakan yang berdasarkan data ilmiah. Selain itu, lembaga tersebut juga mendapat dukungan dari Global Fire Monitoring Center (GFMC), dan mendapat sokongan dana dari Jerman hingga 2019. (**/PRO2)


Komentar

Artikel Terkait