Artikel Pilihan Editor

Sepak Bola: Keriangan yang Sering Terenggut

Kalau di langit memang ada alien, mereka pasti mumet liat noktah kecil yang disepak ke sana kemari dari ujung pelosok sampai kota yang gemerlap di planet biru yang amat indah ini. Sebutir bola berabad-abad menimbulkan keriangan miliaran manusia di dunia.

Sepak bola terkadang bukan sekadar permainan olahraga, tapi sudah jadi ideologi. Ideologi ini meresap ke dada, hati, dan pikiran. Menimbulkan kecemasan, rasa gelisah, debur di dada, atau euforia jika tim yang didukung menang, menang, dan menang. Yang tercantik mainnya dijuluki bintang. Bintang dengan segala previlage dan fasilitas kebintangannya.

Selebriti lapangan hijau bersejajar dengan pesohor layar putih. Pesona mereka memancar sampai ujung gang di negara padat penduduk. Cesar Luis Menotti, penulis sepak bola terkemuka, pernah mengatakan bahwa kesebelasan tanpa pemain bintang ibarat negara tanpa penyair.

Begitu gemilangnya citra pemain hebat bekorelasi langsung dengan faktor keidolaan. Idola adalah suasana psikologis massa di mana penonton ingin bercermin dan ingin menjadi seperti sosok yang mereka 'mahkotakan' di benak.

Tak ayal, standar permainan dituntut tetap tinggi di tengah menggilanya jadwal yang ketat. Penonton (penonton itu kita) tak pernah mau tahu setiap inci kesulitan pemain, kekurangsigapan manajemen, atau iklim kompetisi yang masih seadanya. Belum lagi organisasi besar tempatnya bernaung lebih banyak diberitakan soal rapat-rapatnya ketimbang serangkaian programnya.

Itulah juga yang terjadi di Lampung tercinta. Harapan demi harapan seperti menguap di depan mata. Ketika Persib Bandung mendatangkan pemain-pemain dunia, FC Lampung Sakti yang didoakan tampil gemilang malah menelan kekalahan demi kekalahan. Kita masygul. Nanar.

Ini urusan ruwet. Mesti lengkap melihatnya. Bukan dengan telunjuk yang menunjuk. Harus dengan hati penanganannya. Semua harus terlibat. Ikut berpikir. Keriangan ini jangan hilang. Sepak bola adalah katarsis sosial yang paling ampuh agar kesumpekan hidup tidak meledak di jalan raya kehidupan.

Tabikpuuun....


Heri Wardoyo
Wartawan Utama


Komentar