Artikel Pilihan Editor

Terbang Ya Terbang, Bukan Gaya Hidup

Dulu, awal 90 an, saya sok-sokan terbang ke Jakarta. Cuma ada Garuda Airways. Tiket Rp400 ribu atau 10 kali lipat ketimbang moda darat, cukup bikin mata kunang-kunang. Pesawatnya CN235. Jendela masih bergetar saat take off dan menjelang landing. Lampung memang masih pelosok saat itu.

Penumpangnya rata-rata perlente. Wangi dan groomy. Jarang sekali yang pakai ransel. Memang, harga tiket menunjukkan 'seleksi kelas'. Moda angkutan jarak jauh ada kategorinya.

Dari level gonta-ganti bus (mau pilih kelas ekonomi atau AC) atau travel yang anter-jemput dari alamat ke alamat. Direct bus Lampung-Jakarta belum terpikirkan. Nah, "kasta" tertinggi ya, kapal terbang. Hemat waktu dan minus keringat. Berjam-jam di Selat Sunda membikin penampilan lusuh sebelum tujuan tiba.

Pelud atau Pelabuhan Udara Branti, sebelum istilah bandar udara alias bandara dipopulerkan Anton M. Moeliono, pakar bahasa yang sering muncul di TVRI, masih amat seadanya. Padahal, Branti sudah puluhan tahun menjadi tempat penting transportasi dirgantara. Kondisi ini belum sembuh sampai, katakanlah, 5-10 tahun lalu.

Lampung memang belum menggoda. Namun, kalender cepat melipat dan zaman bergerak. Ekonomi tumbuh dan mobilitas meninggi. Jumlah maskapai terus bertambah dan rute membanyak. Raden Inten II, nama resmi airport kita tercinta, perlahan bebenah.

Branti telah megah. Nyaris semua airlines nasional berebut kue di sini. Tarif kian murah. Semua bisa terbang. Ribuan orang terangkut saban hari. Jadwal teratur dan manajemen penerbangan tambah rapi. Beberapa kota besar di Jawa bahkan bisa dijangkau dengan sekali duduk.

Penumpang coba-coba, seperti saya zaman katrok dulu, nyaris tak pernah lagi ditemui. Semua bergegas mengiringi skedul yang mengetat. Kita akan kerap bertemu teman yang justru lebih mudah ditemui di sini ketimbang di 'darat'. Mereka, kaum yang sibuk itu, dijuluki lounge transit: bandara menjadi melting pot sekaligus perhentian sejenak dari waktu yang kian berharga.

Terbang ya terbang, bukan lagi life style seperti dulu. Kelak, biarlah angka-angka statistik yang mengabarkan kabar baik di balik fenomena berkibarnya Branti.

Tabik puuunnnn


Heri Wardoyo
Wartawan Utama


Artikel Terkait

Komentar