(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName('script')[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = "//connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.6"; fjs.parentNode.insertBefore(jsfjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk'));
Lapor Kominfo, Polri: Akun Penebar Hoaks Isu Papua Ada dari Luar Negeri
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo | Ist/Lampungpro.com
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi...

Lapor Kominfo, Polri: Akun Penebar Hoaks Isu Papua Ada dari Luar Negeri

JAKARTA (Lampungpro.com): Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengatakan sebagian dari 1.750 akun media sosial yang diduga menyebar hoaks terkait isu Papua ada yang berasal dari luar negeri. Akun-akun tersebut sudah dilaporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). "Ada di luar negeri, ada juga di dalam negeri. Itu masih ditelusuri, nanti buka profil dulu," kata Kepala Biro Penmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, Kamis (29/8/2019).

Dedi menjelaskan, ada beberapa pembagian dari hasil penelusuran yang dilakukan oleh pihaknya terkait pemilik akun berkonten negatif soal Papua ini. Bahwa, ada yang berperan sebagai agregator, ada yang bertindak sebagai buzzer, hingga ada yang bertindak sebagai second line buzzer. "Itu dari dilakukan mapping dan profiling dari 1.750 akun. Dari 1.750 akun ini menghasilkan 32 ribu konten," jelas dia.

Kata-kata provokatif yang disampaikan melalui akun ini, lanjut dia, biasanya bernada penghinaan hingga ujaran kebencian. Untuk saat ini, Dedi mengaku belum ada tambahan akun yang akan dilaporkan ke Kominfo. Yang jelas, saat ini pihaknya terus meminta pihak kementerian terkait untuk segera menghapus dan menindak akun-akun itu. "Beberapa hari ini saya masih tanya untuk segara dilakukan penindakan hukum terhadap akun yang sudah betul-betul dilakukan identifikasi dan diketahui lokasinya," ucap dia.

Penghapusan akun-akun ini menurut dia penting agar berita-berita hoaks terkait Papua tidak lagi bermunculan. "Ini penting untuk sedikit mengerem berita-berita hoaks ujaran kebencian yang ada di medsos menyangkut isi Papua," terang dia.(**/PRO2)


Komentar

Artikel Terkait