(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName('script')[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = "//connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.6"; fjs.parentNode.insertBefore(jsfjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk'));
Kebakaran Hutan dan Lahan, Belum Ada Pelaku Pembakaran di Lampung Ditangkap
Kebakaran lahan gambut di Kabupaten Mesuji, Lampung, Selasa (12/8/2019). LAMPUNGPRO.COM
Kebakaran lahan gambut di Kabupaten Mesu...

Kebakaran Hutan dan Lahan, Belum Ada Pelaku Pembakaran di Lampung Ditangkap

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com): Hingga Selasa (13/8/2019), Satelit SNPP masih memantau dua titik panas (hotspot) di Provinsi Lampung. Kedua titik panas itu yakni di Kecamatan Gedungmeneng dan Gedung Aji, Kabupaten Tulangbawang. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mencatat dalam sepuluh hari terakhir, terdapat 70 hotspot di Lampung.

Paling parah terjadi pada kebakaran lahan gambut di Dusun Umbul Sempu Desa Margojadi Kecamatan Mesuji Timur dan Dusun Umbul Ben Desa Wiralaga II Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji, Lampung, ratusan personil diturunkan. Kebakaran yang terjadi sejak, Minggu (11/8/2019), hingga Rabu (14/8/2019), api belum dapat dipadamkan meski ratudan 100 personil polisi, TNI, dan masyarakat ikut memadamkan.

Meski pembakaran lahan dan kebun terjadi menahun, menurut Direktur Eksekutif Lembaga Konservasi 21, Edy Karizal, belum ada pelaku pembakaran yang ditangkap. "Seharusnya berbagai pihak berwenang dalam pengelolaan lahan atau kawasan melapor ke kepolisian terkait pembakaran lahan. Misalnya, kebakaran lahan gambut atau lahan, pemda atau perangkat di bawahnya seperti kades melaporkannya ke pihak terkait dan kepolisian sehingga kepolisian dahttps://lampungpro.com/post/22923/tiga-hari-lahan-gambut-di-mesuji-lampung-terbakar-ratusan-personil-turunpat bertindak secara hukum," kata Edy Karizal, Rabu (14/8/2019).

BACA JUGA: Tiga Hari Lahan Gambut di Mesuji Lampung Terbakar, Ratusan Personil Turun

Terkait perkebunan tebu yang sengaja dibakar, kata Edy, seharusnya pemda tidak tinggal diam dan melaporkan kepada instansi yang lebih tinggi, bahkan sampai ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sedangkan untuk kawasan konservasi seperti Taman Nasional Way Kambas (TNWK) seharusnya melakukan kordinasi dengan indransi terkait termasuk kepolisian mengenai kebakaran lahah dan hutan ini.

Pasalnya, TNWK adalah kawasan konservasi yang dilindungi UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. "Sampai saat ini belum ada pembakar yang ditangkap, khususnya untuk kawasan perkebunan terkesan kepolisian dan pemda takluk dengan pengusaha padahal mereka melanggar UU Perkebunan dan UU Lingkungan Hidup," kata Edy. (PRO1)


Komentar

Artikel Terkait