Kisah Juru Langsir Stasiun Tanjungkarang, Rindukan Lebaran Bareng Keluarga

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com) : Hari Raya Idulfitri adalah momen kebahagiaan, sekali pun di sana ada air mata yang menetes kala seorang anak bersujud di bawah kaki orangtuanya. Hari Raya Idulfitri merupakan kado terindah dari Allah untuk umat Islam setelah berpuasa satu bulan namanya.

Kebahagiaan yang dirasakan di Hari Raya Idulfitri tak bisa dibayar dengan apa pun. Itu kenapa, banyak dari perantau rela kembali ke kampung halaman untuk bisa berkumpul bersama sanak saudara. Momen ini tak dapat tergantikan oleh momen apapun.

Hal tersebut nampaknya tak pernah dirasa selama enam tahun lamanya oleh Muhammad Syaifudin Aziz, seorang juru langsir di PT. KAI Divre IV Tanjungkarang yang kerjanya menyusun, memisahkan, dan memindahkan kereta yang hendak berangkat maupun kereta yang datang di Stasiun Tanjungkarang.

Aziz sapaannya merupakan asli warga Bojonegoro, Jawa Timur selama tugas di Lampung belum pernah lagi merasakan hari raya bersama orang-orang tercintanya di kampung halaman.

"Perasaan jauh dari keluarga sangat sedih jarang kumpul saat hari raya seperti ini karena tugas. Teriris dan menangis rasanya hati ini tiap mendengar kumandang takbiran hari raya," cerita Aziz kepada Lampungpro.com, Kamis (6/6/2019).

Saat ini Aziz sangat merindukan suasana kumpul bersama orang tua, keluarga dan rekan-rekannya di tanah kelahirannya saat hari raya berlangsung. "Jelas sangat rindu karena komitmen dinas jadi tidak bisa pulang kampung. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata (sambil menangis)," ungkap Aziz.

Saat ditanya makanan favorit hari raya ketika berkumpul bersama keluarga, Aziz mengaku sangat rindu makanan pecel khas Bojonegoro dan nasi goreng buatan ibunya. "Rindu kedua makanan itu, karena nasi goreng dan pecel merupakan sajian yang selalu ada saat hari raya di tempat saya. Meskipun nanti bisa cuti untuk pulang kesana namun rasanya sudah berbeda saat hari raya," kata dia. (FEBRI/PRO2)


Artikel Terkait