(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName('script')[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = "//connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.6"; fjs.parentNode.insertBefore(jsfjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk'));

Mudik, Oase Lelah Konflik Politik

Tabik puuunnnnn......

Tiba-tiba semua bisa melupakan perbedaan ketika bicara mudik. Ya, tradisi tahunan para perantau setiap menjelang Idulfitri ini, menjadi magnet bagi siapa pun yang mengaku perantau.

Mudik alias pulang kampung bukan lagi sekedar berpindah dari rantau ke kampung halaman. Pun bukan lagi sekedar menjadi tolok ukur berhasil tidaknya di rantau.

Mudik menjadi oase dari perjalanan panjang. Sejenak berhenti dari aneka konflik, silang sengketa, dan aneka salah, termasuk salah hitung dan salah input. Mudik makin istimewa karena berbalut Idulfitri yang memang intinya kembali ke fitrah atau kembali ke asal.

Tak ada yang membantah ini adalah titik kulminasi kelelahan masyarakat yang diombang-ambing aneka pertikaian massal, massif, dan tanpa jeda. Mata, telinga, hingga hati masyarakat 'dipaksa' terbelah dalam aneka kelelahan oleh perhelatan politik yang berantai dari pemilihan kepala desa (pilkades), pemilihan kepala daerah (pilkada), pemilihan presiden (pilpres), hingga pemilihan legislatif (pileg).

Boleh jadi kata rukun dan guyub menjadi barang mahal. Itu semua adalah dampak menipisnya semangat gotong-royong berlandaskan rukun dan guyub. Masyarakat kini terbelah dalam dua kubu, kawan dan lawan. Ini terjadi karena setiap perbedaan pendapat dan pilihan adalah lawan.

Tradisi gotong-royong yang dilandasi semangat win-win solution ringan sama dijinjing berat sama dipanggul, kini berubah menjadi win-lose. Lu jual gue beli yang penting win, tak penting bagaimana caranya. 

Seolah semua akan abadi tanpa batas. Lupa bahwa semua ada masanya.

Maka, mudik menjadi perenungan bagi siapapun yang menghalalkan segala cara, bahwa suatu saat semua akan kembali ke kampung asal yang abadi. So, mari mudik sebagai latihan untuk kembali ke kampung abadi.

Amiruddin Sormin

 

Wartawan Utama

 

 


Artikel Terkait