Artikel Pilihan Editor

Jalan Tol Lampung Diprediksi Mulai Bayar Setelah Pemilu 17 April 2019
Gerbang Tol Kotabaru, Lampung Selatan. LAMPUNGPRO.COM/AMIRUDDIN SORMIN
Gerbang Tol Kotabaru, Lampung Selatan. L...

Jalan Tol Lampung Diprediksi Mulai Bayar Setelah Pemilu 17 April 2019

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com): PT Hutama Karya, pengelola Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggi Besar diprediksi bakal menerapkan pembayaran setelah Pemilihan Umum (Pemilu) 17 April 2019. Pasalnya, seminggu sebelum masa gratis berakhir sejak diresmikan 8 Maret yakni 8 April 2019, belum ada sosialisasi besaran tarif di tiap gerbang tol.

Satu-satunya informasi tol Lampung bakal bayar, hanya pemberitahuan dari Kepala Cabang PT Hutama Karya Tol Hanung Hanindito, pekan lalu yang mengatakan ruas Bakauheni-Terbanggi Besar segera dikenakan tarif tol. "Ruas Bakauheni-Terbanggi Besar akan segera dikenakan tarif tol," kata Hanung, kepada Lampungpro.com, Jumat (29/3/2019).

"Biasanya, tarif tol itu diumumkan dua minggu sebelum diberlakukan," kata pengamat ekonomi Lampung, Asrian Hendi Caya, di Bandar Lampung, Senin (1/4/2019).

Terkait prediksi ini, Hanung tidak berkomentar banyak. "Saya menunggu keputusan manajemen," kata Hanung, menjawab Lampungpro.com.

Terkait prediksi tarif yang beredar yakni antara Rp800-Rp1.000 per kilometer, menurut Asrian, cukup memberatkan masyarakat Lampung. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung itu menyontohkan jika Rp1.000/km, tarif golongan 1 dari Bakauheni hingga Gerbang Tol Kota Baru yakni Rp79 ribu. "Itu setara premiun 12 liter atau lebih dari Itera ke Bakauheni," kata Asrian.

Dia berharap tarif tol disesuaikan dengan kemampuan warga Lampung. Pasalnya, sempat beredar tarif Rp32 ribu dari Itera ke Bakauheni. "Kalau angkutan travel sayang buang uang segitu," kata Asrian.

Mengenai ramai atau tidak tol Lampung pasca berbayar, menurut Asrian, sangat tergantung besaran tarif. Apalagi kemacetan di jalan nasional belum begitu mendesak untuk lewat tol, kecuali untuk kejar waktu.

"Saat ini tol bakal banyak dipakai rombongan wisata darat dari Jakarta atau regional Sumatera untuk kelancaran karena hemat waktu, tapi berapa besar pangsanya? Oleh karena itu itu harus ada upaya memperbesar kunjungan wisata terutama rombongan sekolah, mahasiswa, karyawan, dan komunitas," kata Asrian. (PRO1)


Komentar

Artikel Terkait