Artikel Pilihan Editor

OTT KPK, Kombinasi Sial dan Kualat

Tampaknya daftar para pesohor yang kena operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal terus bertambah. Betul kata kawan, selama para pelaku menganggap OTT cuma karena sial, rasuah bakal terus terjadi dan takkan hilang.

Tapi kini, kena OTT KPK bukan cuma karena sial. Ada juga yang mengaitkannya dengan kualat atau kombinasi sial dan kualat. Dua-duanya dianggap takkan menyentuh semua orang, terutama yang hoki dan dekat dengan sumbu kekuasaan. Paling tidak, masuk bungker elit, saat ini dinilai paling jitu untuk menghidari radar antirasuah.

Pikiran itu barangkali kini yang terlintas di benak para penilap duit rakyat. Ramai-ramai jadi penyokong kubu penguasa bakal aman atau tidak masuk daftar buruan.

Itulah karikatur yang sering dipertontonkan, demokrasi berubah menjadi bungker dari jerat hukum. Pesta demokrasi bukan hanya kontestasi untuk mencari yang terbaik, tapi kontestasi kepada masyarakat bahwa saya tidak salah 'ngegenk' alias on the track di jalan aman tangkapan KPK.

Kalau itu yang ada di benak Romi, panggilan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy, yang razin share foto dan vlog bersama Presiden RI Joko Widodo, ternyata salah besar. It's doesn't work. Maka, bersiap-siaplah untuk menambah deret panjang pemakai rompi orange bagi yang mencari perlindungan di balik kekuasaan.

Tak ada berita viral secepat berita OTT KPK di negeri ini. Kecepatannya bahkan mengalahkan aneka berita bad news atau good news. Tak ada juga berita yang komentarnya paling banyak, mengalahkan para penguasa yang terjaring OTT.

Apa artinya semua ini? Rakyat muak dengan semua sandiwara dan pencitraan wajah-wajah yang ternyata penilap duit mereka. Maka, tanpa menjadikan setiap OTT sebagai monumen peringatan untuk memperbaiki sistem, masih bakal banyak topeng yang bakal terbuka.

Lelahkah KPK? Ini yang diharapkan pelaku rasuah yang kemudian diseret untuk membubarkannya, karena tak efektif mencegah korupsi. Kemudian, opini pun dibentuk untuk mengembalikan pemberantasan korupsi ke masa lalu yakni hanya kepolisian dan kejaksaan. 

Tapi mereka lupa, KPK punya energi dari people power penguasa media sosial yang tak dapat dibendung media mainstream. Jadi tetaplah bersuara di akun masing-masing, kawan. Karena lelah dan sunyi itulah yang mereka tunggu.


Tabik puunnnn...

 

Amiruddin Sormin
Wartawan Utama