Artikel Pilihan Editor

Lepas Memulung, Mbah Mujiati Tak Lupa Urusan Agama dengan Pengajian
Mbah Mujiati tersenyum saat disambangi tim Serbu | Ist/Lampungpro.com
Mbah Mujiati tersenyum saat disambangi t...

Lepas Memulung, Mbah Mujiati Tak Lupa Urusan Agama dengan Pengajian

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com): Di usia senjanya, Mujiati (64) tak bisa berleha-leha dan bersantai. Wanita yang tinggal di RT. 007, RW. 003 Serbajadi Pemanggilan, Natar Lampung Selatan ini tetap gigih dan berjuang untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.

Dalam kesehariannya, Mbah Mujiati begitu sapaan akrabnya, bekerja sebagai pemulung barang bekas. Hasil dari memulung setiap harinya ia jual kepada pengepul barang bekas. Pengahasilanya pun tak bisa di bilang besar, ia hanya memperoleh Rp10 ribu sekali memulung, ya hanya segitu. Namun, tak ada keluhan yang keluar dari mulut Mbah, ia hanya menjawab penuh optimis. "Ya dicukupkan mas, Alhamdulillah".

Tak ada raut kesedihan di wajahnya, hanya ada senyuman dan rasa syukur yang terpancar dari Mbah Mujiati. Ia tinggal sendiri sejak sang suami meninggal dunia, ia bukan tak memiliki anak. Menurutnya, sang anak sedari kecil sudah di beri ke orang lain. Dalam hal ini sang anak telah di adopsi oleh orang lain karena kondisi ekonomi yang ia alami. Mbah Mujiati pun tak tahu dimana keberadaan anaknya hingga kini.

Sehari-hari, Mbah Mujiati berlindung dari panas dan hujam di sebuah gubuk bambu yang hampir roboh. Rumah ini pun bukan berdiri di tanah sendiri melainkan tanah menumpang milik saudara. Di dalam rumah, bukan perabotan umumnya yang ditemukan, melainkan penuh dengan barang rongsok yang belum di setor ke pengepul.

Mba Mujiati tidur alakadar nya di bagian belakang rumah yang digunakan sebagi kamar sekaligus dapur. Itupun hanya tersedia tikar yang masih harus berbagi dengan tumpukan pakaian dan berada di samping peralatan dapur tempat biasa ia memasak.

Ia berkisah, setiap hujan bercampur angin datang, ia tak berani berada di rumah karena takut roboh. Ia memilih mengungsi ke rumah tetangga yang lebih aman. Menurutnya, rumah tersebut sempat ikut program bedah rumah, namun hingga kini tak terealisasi karena kendala status tanah.

Meskipun sehari-hari memulung, Mbah Mujiati tak lupa untuk mengingat ibadah menghadap sang Pencipta. Ia sadar, semua yang ada di bumi termasuk apa yang ia miliki merupakan pemberian Allah. Ia pun rutin mengikuti pengajian setiap kamis, sedari sore hingga sebelum waktu Salat Magrib, bahkan setiap ada pengajia ia rutin mengikuti kegiatan tersebut.(TIM SERBU/PRO2)


Komentar

Artikel Terkait