Artikel Pilihan Editor

Setiap Akhir Pekan, Akses Menuju Pintu Tol Kotabaru Dijadikan Objek Pasar
Akses menuju pintu Tol Kotabaru dari Jalan Ryacudu, Rabu (13/3/2019). Di tempat ini pada setiap akhir pekan selalu dijadikan pasar dadakan. | FEBRI/Lampungpro.com
Akses menuju pintu Tol Kotabaru dari Jal...

Setiap Akhir Pekan, Akses Menuju Pintu Tol Kotabaru Dijadikan Objek Pasar

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com): Tiap akhir pekan, akses menuju pintu masuk Tol Kotabaru tepatnya di Jalan Ryacudu Sukarame Bandar Lampung yang berada di depan rumah adat Skalabrak Lampung menjadi pasar tradisional atau yang dikenal masyarakat sekitar dengan pasar kaget.

Tak pelak jika hari Minggu tiba di waktu sore jalan tersebut dipadati pedagang dan pembeli, hingga membuat kemacetan disekitar yang membuat kendaraan yang melintasi jalan tersebut harus berjalan pelan.

Menurut informasi Asep (28) penjual siomay di Ryacudu mengatakan pasar tersebut sudah ada sebelum adanya jalan tol yang ada di Kotabaru. "Sudah lama pasar ini ada ya sekitar empat tahunan, dulu hanya sedikit yang berjualan," ucap dia saat ditemui Lampungpro.com, Rabu (13/03/2019) sore.

Asep menyebut pasar kaget yang ada di Ryacudu saat ini para pedagangnya banyak tumpahan pindahan dari pasar induk Sukarame dan beberapa pasar induk yang ada di Bandar Lampung.

Sementara itu, Agus (35) pedagang es yang tiap harinya mangkal di depan rumah adat Skalabrak Lampung  mengatakan pasar tersebut buka dari jam tiga sore hingga menjelang waktu magrib.

"Paling ramai itu di hari Minggu semua pedagang ada disini mulai dari sayuran, jajanan hingga daging ada, kadang juga tidak menentu bukanya kalau ramai ya jam tiga sore sudah buka dan menjelang magrib sudah pada tutup," kata Asep.

Pantauan Lampungpro.com dua hari di lokasi pasar, belum nampak ramai pedagang yang membuka lapaknya, terlihat hanya sebatas pedagang makanan yang memang sudah menyewa tempat di depan rumah adat Skalabrak Lampung. Lalu lintas di jalananpun belum nampak adanya kemacetan, sesekali macet di perempatan jalan. (FEBRI/PRO3)


Komentar