Artikel Pilihan Editor

Muara Alam, Objek Wisata di Lampung Timur Dari Bekas Galian Pasir
Suasana objek wisata Muara Alam. | Ist
Suasana objek wisata Muara Alam. | Ist

Muara Alam, Objek Wisata di Lampung Timur Dari Bekas Galian Pasir

LAMPUNG TIMUR (Lampungpro.com): Ingin menikmati wisata alam? Tak perlu khawatir, karena di Lampung Timur ada tempat wisata alam yang sebelumnya merupakan tambang galian pasir. Bekas tambang galian pasir ini disulap sedemikian rupa sehingga menjadi tempat wisata yang cantik, yaitu objek wisata Muara Alam.

Danto Wahab, manajer objek wisata Muara Alam, Desa Rejomulyo, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur mengatakan, objek wisata tersebut menyajikan wahana bermain anak. Diantaranya, kolam renang, saung bambu, karaoke serta tempat kuliner. Berkonsep wisata alam, danau lengkap dengan sejumlah saung, menjadikan destinasi wisata Muara Alam sebagai tempat bersantai nyaman saat akhir pekan.

Pengunjuk objek wisata Muara Alam, didominasi wisatawan keluarga. Pada hari biasa, jumlah pengunjung yang datang mencapai 50 hingga 60 orang perhari. Pada akhir pekan, kunjungan mencapai 100 hingga 300 orang.

Sebagai destinasi wisata berkonsep alam, juga tersedia fasilitas edukasi renang yang memenuhi standar keamanan. “Konsep wisata yang ditawarkan merupakan wisata keluarga, dan penuh edukasi, karena dominan wisatawan yang datang merupakan anak-anak usia sekolah sebagian bersama keluarga, dan saat tertentu bersama tenaga pendidik terutama pelajar,” terang Danto Wahab, Selasa (12/3/2019).

Untuk memberi kenyamanan ada fasilitas saung, dari semula 19 menjadi 28 unit. Saung menjadi sarana edukasi, biasa dipergunakan anak-anak untuk kegiatan menggambar, memperkenalkan habitat atau lingkungan air tawar.

Dengan tiket masuk Rp10 ribu, pengunjung mendapatkan bonus minuman ringan. Kunjungan ke wisata tirta Muara Alam meningkat seusai kejadian tsunami pada 22 Desember 2018 silam. Menawarkan wisata air, fasilitas tersedia lebih nyaman bagi anak-anak, membuat lokasi wisata tersebut sangat diminati.

Agus Siswanto, pemilik objek wisata tirta Muara Alam mengatakan, tempat tersebut kerap digunakan untuk kegiatan keluarga. Beberapa sekolah yang memiliki kegiatan sekolah alam sering melakukan kegiatan di Muara Alam. Khusus untuk tingkat SD dan SMP, kegiatan pendidikan jasmani, olahraga dijadwalkan rutin untuk pelajaran berenang. Bersama sang istri Dede Anisa, Agus bekerjasama dengan sejumlah sekolah.

Ada tempat edukasi perikanan dengan kolam ikan berisi ikan emas, gurame, betutu serta lobster. "Sejumlah spot foto yang kita sediakan selalu diperbarui, sehingga pengunjung bisa melakukan kegiatan swafoto sebagai dokumentasi,” beber Agus Siswanto.

Wisata Muara Alam juga menerapkan konsep edukasi lingkungan. Lokasi objek wisata tersebut sebelumnya merupakan tempat galian pasir, yang gersang dan tidak terawat. Setelah dilakukan konservasi lingkungan, sejumlah pohon ditanam di sekitar kawasan Muara Alam seperti, ketapang, kayu putih, pule, albasia serta tanaman buah sirsak. Selain mengejar keuntungan, ia memastikan upaya konservasi tetap dilakukan.

Konservasi dilakukan di sepanjang tanggul kolam. Selain bisa menjadi penahan longsor, juga menjadi peneduh kolam. Sebab tanggul yang dibuat sebagian masih terbuat dari pasir sehingga keberadaan pohon yang memiliki akar kuat bisa menahan tanggul. Sejumlah pohon konservasi tersebut sekaligus menjadi objek swafoto bagi pengunjung pada objek wisata tirta Muara Alam.

Sebagai sebuah objek wisata bekas galian pasir, sejumlah mahasiswa sering menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat belajar. Kawasan yang semula merupakan lokasi tidak terawat, kini menjadi tempat pembelajaran untuk merehabilitasi lahan.

Salah satu pengunjung, Nurjanah, yang bekerja di Jakarta, mengaku merasa nyaman saat berkunjung ke objek wisata Muara Alam. Saat pulang dari Jakarta ia mengaku melihat perkembangan objek wisata di Lampung Timur kini mulai banyak pilihan. Muara Alam memiliki akses yang mudah dicapai dari Jalan Lintas Pantai Timur, sehingga tidak kesulitan untuk menuju lokasi. (***/PRO3)


Komentar

Artikel Terkait