Kargo Naik, Pedagang Online di Lampung Keluhkan Sepi dan Omzet Turun

Kargo Naik, Pedagang Online di Lampung Keluhkan Sepi dan Omzet Turun

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com) : Kenaikan tarif kargo udara pada Oktober 2018 lalu membikin efek domino pada beragam sektor perekonomian. Apalagi kenaikan yang diterapkan cukup drastis, antara 40-90 persen. Sektor jasa ekspedisi mengambil kebijakan menaikkan tarif biaya jasa sehingga membikin arus perdagangan ikut kena imbas, terutama pada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Selain itu, sejak awal Januari 2019 melonjaknya harga tiket pesawat terbang ternyata juga berimbas pada ongkos kirim barang belanja daring. Pasalnya, pengiriman barang tersebut menggunakan jasa kargo pesawat. Kenaikan tarif ini dikeluhkan oleh pembeli, pedagang toko daring, dan perusahaan pengiriman barang seperti Asperindo dan JNE.

Nanda Prakasa salah satu pedagang kaos di Bandar Lampung ikut merasakan dampak kenaikan tarif pesawat. Dampak paling terasa adalah mahalnya biaya kirim yang membuat ia mau tak mau turut menaikkan harga pengiriman dan harga jual kaos nya. "Kerasa lah, kan saya sering belanja barang dari daerah lain, misal Jakarta, Bandung, Batam, bahkan Thailand. Dengan naiknya harga kargo ini mau nggak mau saya naikkan juga harga kaosnya rata-rata naik Rp5.000-Rp.10.000. Ini bikin omzet sepi," ujarnya.

Jika sebelum kenaikan harga ia bisa memperoleh omzet lebih dari Rp3 juta, kini usaha penjualan baik offline maupun online sepi dan omzet turun jadi Rp500 Ribu sampai Rp1 Juta. Banyak konsumen protes akibat tarif pengiriman yang melebihi harga jual barang yang ia tawarkan. Tak hanya itu, kenaikan biaya kargo membikin harga kebutuhan pokok naik dua kali lipat karena barang-barang harus didatangkan dari tempat lain. "Kita akalin dengan barang yang lebih murah dan dikirim lewat darat. Tapi banyak yang komen soal kualitas yang beda," terang Nanda.

Senada, keluhan yang sama juga muncul dari Reny seorang yang menawarkan bisnis jasa titip (jastip) IKEA ke seluruh wilayah Indonesia. Meski buatnya kenaikan kargo tidak berpengaruh pada volume penjualan, ia membenarkan bahwa pada 2018 tarif kargo telah mengalami kenaikan hingga beberapa kali. "Konsumen tanya kenapa sekarang lebih mahal. Rata-rata tetap lanjut transaksi tapi ada juga yang jadi pending, nabung dulu," jelasnya.(REKANZA/PRO4)


Komentar

Artikel Terkait