Artikel Pilihan Editor

Imlek: Kunjungi Vihara Thay Hin Bio, Tertua dan Bersejarah di Lampung
Vihara Thay Hin Bio Telukbetung merupakan vihara tertua dan saksi sejarah Lampung | Ist/Lampungpro.com
Vihara Thay Hin Bio Telukbetung merupaka...

Imlek: Kunjungi Vihara Thay Hin Bio, Tertua dan Bersejarah di Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com) : Perayaan tahun baru Imlek merupakan perayaan yang dirayakan oleh kaum tionghoa di seluruh dunia. Perayaan Imlek sendiri tidak bisa dilepaskan dari berbagai tradisi, baik menyiapkan kue keranjang, atraksi barongsai, hingga peribadatan di Vihara bagi umat Budha. Di Lampung, menjelang perayaan Imlek seluruh Vihara mulai bersolek. Tapi tahukah kalian, di Bandar Lampung ada Vihara tertua yang menjadi sakti keganasan Gunung Krakatau.

Vihara tersebut bernama Thay Hin Bio yang dulunya adalah sebuah cetiya . Sejarah panjangnya bermula ketika orang dari Tiongkok bernama Po Heng datang membawa patung Dewi Kwan Im pada tahun 1850. Patung tersebut menarik perhatian masyarakat, sehingga muncul gagasan untuk membangun tempat ibadah yang dapat digunakan bersama-sama. Akhirnya, pada tahun yang sama, masyarakat sekitar bersama-sama membangun cettiya yang diberi nama Avalokiteswara.

 

Cettiya Avalokiteswara dulu dibangun di tempat yang sekarang menjadi lokasi gudang agen. Karena banjir akibat letusan Krakatau tahun 1883, bangunannya rusak, sehingga patung sang Dewi harus dipindahkan. Pemindahan patung dilakukan oleh Po Heng. Ia membawa patung tersebut ke tempat yang disebut “tanjakan residen”. Tiga belas tahun kemudian yaitu pada 1896, cettiya yang baru didirikan di tempat ini. Cetiya tersebut diberi nama Kuan Im Thing atau persinggahan Dewi Kuan Im.

 

Pembangunannya dibiayai oleh masyarakat. Mereka menggalang dana kemudian menyerahkannya pada Yayasan Mahopadi. Yayasan inilah yang kemudian membangun cettiya Kuan Im Thing. Tanggal 1 Oktober 1898, pemerintah Belanda mengeluarkan izin bangunan. Sejak itu, jalan di depan cettiya disebut jalan Kelenteng. Dari waktu ke waktu jumlah pengunjung cettiya semakin banyak, sehingga bangunannya harus direnovasi. Tahun 1963 cettiya Kwan Im Thing direnovasi. Renovasi selesai dilakukan tahun 1967, terhambat karena pemberontakan G30S / PKI tahun 1965. Pasca renovasi, cettiya berganti nama menjadi Vihara Thay Hin Bio yang berarti vihara yang besar dan jaya.

 

Vihara Thay Hin Bio adalah vihara yang merupakan saksi sejarah peradaban bangsa Tionghoa di Teluk Betung, karena vihara ini merupakan yang tertua di Kota Bandar Lampung, bahkan untuk Provinsi Lampung. Lokasinya, dekat dengan tempat perbelanjaan oleh-oleh di Telukbetung Selatan. Vihara Thay Hin Bio dibuat pada tahun 1850. Vihara yang sampai sekarang masih tetap berdiri tegak itu bukan hanya simbol biasa, melainkan dapat menceritakan peristiwa masa lalu.

 

Ada suatu perkampungan dalam kota yang betul-betul memiliki jumlah hunian terbesar etnis Tionghoa di Bandar Lampung. Warga setempat biasa menyebutnya Daerah Pecinan Teluk Betung. Kawasan itu membentang dari awal akses Pasar Pagi hingga berbatas dengan Kampung Palembang di arah selatan kota, Gudang Lelang Lama, Pasar Kangkung, dan wilayah Gudang Garam. Pemukiman etnis Tionghoa di Lampung jejaknya dapat ditelusuri di sekitar daerah Teluk Betung. Di Jalan Ikan Kakap misalnya, yang memang hampir sepanjang jalan berjejer pertokoan yang sebagian besar milik etnis Tionghoa.(**/PRO4)


Komentar

Artikel Terkait