Artikel Pilihan Editor

Reuni 212, Anggap Mereka itu Wisatawan

Mereka ini bukan gerombolan suporter sepak bola bermodal nekat. Makan di warung ngak bayar atau darmaji alias dahar lima ngaku hiji, kencing di WC gratis, dan menjarah warung sepanjang perjalanan.

Rombongan Reuni 212 ini bisa disebut wisatawan, karena mereka kumpul di tempat wisata Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Bukankah sejak dulu, Pemda DKI Jakarta menjadikan Monas destinasi wisata unggulan?

Lakon pariwisata yang mereka jalani yakni wisata rohani. Mereka ini ingin bersilaturahmi dan melepas rindu dengan sesama saudaranya dari seluruh penjuru Tanah Air, di tempat wisata Monas. Bukankah kerindungan atas suadara-saudara dari se-Nusantara itu yang membuat Indonesia tetap disebut NKRI?

Lihatlah cara mereka berangkat, persis seperti mau piknik. Sewa bus pariwisata, setiap mampir di warung bayar, masuk WC juga bayar, dan selfie di setiap pemberhentian lalu upload ke media sosial. Jelas sekali wajah-wajah ceria mereka di media sosial dan bukan seperti teroris. 

Tak ada yang minta dispensasi atau diskon tarif khusus sewa bus, naik pesawat, dan naik kapal ferry di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Akibat lakon wisata rohani itu, pesawat yang Sabtu-Minggu low season, jadi full book. Kapal ferry dapat masukan, karena dari Lampung saja ada 62 bus berangkat. Belum lagi kuliner Jakarta yang kecipratan rezeki.

Pun tak ada anggaran negara yang mereka sedot. Tak ada kereta api dan bus yang kacanya pecah dilempari, bahkan tak ada sampah berserakan. Itulah tandanya mereka wisatawan.

Seharusnya, Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) mencatat Reuni 212 ini sebagai reuni terbesar di Indonesia. Pemerintah menjadikannya sebagai corong bagi dunia, betapa damai Islam di Indonesia. Bisa kumpul jutaan orang tapi ngak ada yang teriak "Senggol bacok!"

Persoalan konten yang diusung Reuni 212, tak harus membuat siapa pun blingsatan apalagi harus sweeping sana-sini dan kerahkan pasukan seperti mau perang. Konstitusi menjamin kebebasan berpendapat. Mereka yang hadir itu karena cinta NKRI bukan mau kepung Istana Negara.

Saya kok yakin, kalau Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih hidup dan ditanya wartawan soal hebohnya kontroversi kehadiran mereka di Jakarta, mesti jawab gini, "Gitu aja kok repot."

Tabikkk puuunnnnn......

 

 

Amiruddin Sormin
Wartawan Utama

 


Artikel Terkait