Artikel Pilihan Editor

Pilpres 2019, Begini Kerasnya Persaingan Jokowi-Makruf dan Prabowo-Sandiaga
Joko Widodo (Kiri) dan Prabowo Subianto (Kanan) saat diskusi di Istana Merdeka. | Ist/Lampungpro.com
Joko Widodo (Kiri) dan Prabowo Subianto ...

Pilpres 2019, Begini Kerasnya Persaingan Jokowi-Makruf dan Prabowo-Sandiaga

JAKARTA (Lampungpro.com): Direktur Ekseskutif Media Rico Marbun menganalisis strategi Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Begini kerasnya strategi dua pasang kontestan Pilpres 2019 itu. "Menggunakan analogi taktik militer, saat ini strategi Jokowi-Ma'ruf bumi hangus dan blokade, strategi Prabowo-Sandi gerilya revolusi," ucap Rico, Jumat (14/9/2018).

Rico menyoroti sejumlah kegiatan Jokowi belakangan ini sebagai Presiden RI. Inilah maksud strategi bombardir yang disampaikan Rico. "Sebagian besar event Jokowi akhir-akhir ini diarahkan secara maksimum bombardir pencitraan ke seluruh segmen pemilih," katanya.

Rangkaian kunjungan luar negeri Jokowi ke Korsel dan Vietnam, disebut Rico berfungsi lebih dari sekadar kunjungan kenegaraan. "Nuansa pencitraannya sangat kental," sebut Rico.

Rico memerinci alasan menyebut kunjungan itu pencitraa. Di Korsel misalnya, Jokowi dianggap Rico tidak hanya bicara capaian kerja. Netizen tanah air dihebohkan dengan foto Jokowi bareng Suju group K-pop Super Junior. Bagi Rico, foto Jokowi bareng Suju jelas menyasar pemilih dari kalangan pencinta dance K-pop di tanah air dari berbagai segmen usia.

Di Vietnam, lanjut Rico, secara khusus Jokowi mengantarkan Go-Jek masuk ke pasar Vietnam. Publik tanah air pun disuguhi foto-foto dan pemberitaan masif tentang Jokowi dan lapangan kerja ala milenial. Rico lalu berbicara soal strategi blokade.

"Selain bombardir citra yang dirasakan pemilih, gelombang jalanan oposisi juga mengalami hambatan. Di berbagai tempat aksi turun ke jalan atas nama ganti presiden 2019 mengalami banyak kesulitan," ulas Rico.

Usai Jokowi, Rico mengulas strategi Prabowo-Sandi. Prabowo-Sandi dinilai kental menuansakan perjuangan ala gerilya dalam melawan Jokowi. Gerilya ialah taktik yang lumrah digunakan oleh pihak yang memiliki daya dukung lebih lemah melawan pihak yang lebih superior secara sumber daya.

"Prinsip pertama strategi ini menekankan justifikasi moral yang lebih tinggi daripada lawan. Dalam konteks pilpres, ini artinya Prabowo tidak membutuhkan branding kompetesi yang terlalu tinggi. Fokus utama adalah menjadikan lawan sebagai biang kerok kesengsaraan dan kehancuran," beber Rico.

Memakai strategi revolusi, Rico menganggap Prabowo-Sandi tidak perlu meyakinkan masyarakat bahwa dirinya lebih baik dari Jokowi. Cukup dengan meyakinkan rakyat jika Jokowi memimpin kembali, pemilih akan mengalami hidup lebih sulit dan masa depan yang suram. Bila Prabowo berhasil meyakinkan publik akan bahayanya nasib Indonesia bila Jokowi terpilih kembali--menurut Rico--maka semua pencitraan Jokowi tidak akan ada efeknya. "Karena gerakan rakyatlah yang nanti akan menjadi lawannya," ucap dia.

Sandiaga dianggap Rico telah menampakkan sisi agresivitas dalam menyerang lawan politik. Rico memberi contoh. "Kita juga lihat Sandi mulai ambil posisi menyerang seperti ucapannya terhadap kepala-kepala daerah yang mendukung Jokowi agar fokus pada kerja di daerah bukan kampanye," pungkas dia. (***/PRO3)


Komentar

Artikel Terkait