Jangan Nasehati Orang Gila, Orang Jatuh Cinta, dan Tim Sukses

Ketiganya memiliki kesamaan. Buta dan ngak waras. Maka, selain sia-sia, menasehati orang gila, orang jatuh cinta, dan tim sukses juga melelahkan.

Bagi ketiganya, nasehat itu bagaikan anjing menggonggong kafilah berlalu. Biduk berlalu kiambang bertaut. Batubata serasa cokelat dan taik kucing dibilang bunga pasir.

Begitulah kata kawan yang pernah jadi tim sukses salah satu calon presiden. Bagi mereka right or wrong is my boss. Celakanya, semua perbuatan bosnya adalah right dan lawan selalu wrong.

Jadi jangan heran produksi hoax, fitnah, dan ujaran kebencian (hate speech) melimpah menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Jangan heran pula, orang-orang yang suka menyebar hoax, fitnah, dan ujaran kebencian itu naik daun dan menguasai panggung.

Mereka memang sengaja ditampilkan untuk menutupi kelemahan, minimnya gagasan cemerlang, dan jebloknya prestasi. Rakyat dipaksa menelan hoax, fitnah, dan ujaran kebencian agar tidak bisa berpikir kritis apalagi mempertanyakan kecanggihan program calon yang diusung.

Rakyat dibuat berkutat di kubangan kebencian agar yang berfungsi adalah otak kirinya. Rakyat dijebak untuk tidak bisa berpikir kritis. Targetnya, melihat perbedaan sebagai musuh dan cuma satu kata: lawan!.

Siapa yang berseberangan berangus, bully, dan persekusi secara massal. Kalau tak kuat sendiri, libatkan aparat. Larang semua yang berseberangan, kalau perlu kriminalisasi dengan mempermalukannya di depan umum. Giring pendapat bahwa yang di seberangan sana semua kriminal.

Nah, bagi yang berani menasehati tim sukses seperti itu, jangan-jangan orang gila dan orang yang lagi jatuh cinta juga!

Tabik puunn... 

 

Amiruddin Sormin
Wartawan Utama

 


Artikel Terkait