Artikel Pilihan Editor

Adakah Pelukan Jokowi dan Prabowo Tanpa Olahraga?

Hari ini, Minggu (2/9/2018) Asian Games meninggalkan kita semua. Bersyukur bagi yang bisa dan terlibat langsung menyaksikannya. Inilah momen terbaik sepanjang sejarah 73 Republik Indonesia.

Bukan hanya karena mampu melesat ke posisi empat perolehan medali dari target 10 besar, Asian Games menjadi momen bagi rakyat Indonesia sejenak melupakan kepenatan politik. Lelah betul, rakyat ini diadu domba sejak Pilkada Serentak 27 Juni.

Tanpa ada jeda, langsung kepenatan ditambah beban harus memilih sekian banyak wajah pada Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden 2019. Beruntung ada Asian Games yang membuat sejenak urat syaraf meregang.

Sedikit membuat media sosial dijeda oleh sumpah serapah oleh pro dan kontra #2019GantiPresiden. Olahraga tak hanya persoalan cititus, altius, dan foltius bagi rakyat Indonesia. Dia menjelma menjadi oase dari dahaga saling berangkulan.

Maka ketika atlet pencak silat Hanifan Yudani merangkul Joko Widodo dan Prabowo Subianto dalam satu pelukan berbalut bendera Merah Putih, semua terhenyak. Ternyata kita satu bangsa yang masih bisa berpelukan. Semua kubu yang sengaja dibangun para aktor, ambruk seketika.

Masih adakah pelukan seperti itu tanpa olahraga? Saya tentu berharap itu adalah pelukan awal, bukan akhir. Apalagi melihat gelagat yang makin memanas di bawah seperti alang-alang kering yang setiap saat bisa terbakar.

Saya juga berharap, siapa pun yang berada di pusaran politik dapat menjadikan pelukan itu sebagai sinyal bahwa kontestasi politik sama dengan kompetisi olahraga. Politik dan olahraga harus dilandasi sportivitas dan tidak menghalalkan segala cara demi kemenangan.

Karena, politik dan olahraga sesungguhnya adalah cara bagaimana Anda ingin dikenang kelak. Bukan cara bagaimana menang dengan curang yang membuat Anda mati sebelum waktunya di hati rakyat.

Tabik puunnn....

 

Amiruddin Sormin
Wartawan Utama


Artikel Terkait