Seleksi Penyelenggara Pemilu, Selamat Bertarung Para RO!

Ketika seorang kawan mengirimi saya foto sehelai daftar calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung, sambil bercanda saya membalas kiriman via Whatsapp dengan kalimat, "Selamat bertarung para raja olah alias RO!."

Saya tak mengenal semua calon penyelenggara Pemilihan Umum (Pemilu) itu. Hanya beberapa yang saya kenal sewaktu masih jadi aktivis dan punya integritas. Tapi apakah integritasnya masih terjaga atau tidak setelah masuk sistem, itu yang sulit mengukurnya.

Dalam satu dekade terakhir, pandangan saya kepada penyelenggara dan pengawas pemilu, KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memang kurang menggembirakan. Belum luput dari ingatan saya bagaimana ketua dan anggota KPU Lampung Barat masuk bui lantaran terlibat penggelembungan suara seorang calon legislator dari Partai Golkar, pada Pemilu 2014.

Sebelumnya, Ketua dan anggota KPU Tulangbawang Lampung juga dipecat karena terlibat pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu pada 25 Oktober 2012. Tentu saja ini fenomena gunung es, tampak kecil di permukaan, tapi sesungguhnya lebih gila di lapangan. Itu adalah bukti-bukti tak terbantahkan betapa penyelenggara pemilu amat rentan.

Titik nadir ketidakpercayaan saya terhadap penyelenggara Pemilu di Lampung ini adalah ketika terjadi pembiaran massal atas pembagian uang besar-besaran pada masa tenang Pilkada 2018. Aneh bin ajaib, para pengawas Pemilu dibuat terhipnosis dan hanya menerima laporan sambil minta bukti ini itu.

Lho, apakah mereka ini digaji negara untuk duduk manis melihat itu semua, sambil 'buang bangek' dengan mengatakan laporan tidak lengkap? Lalu, sebenarnya apa niat kalian ketika mendaftar menjadi pengawas dan penyelenggara pemilu?

So, sebelum terlanjur dan kirim pers rilis sana-sini karena namamu tak lolos seleksi, sebagai kawan saya cuma bisa bilang luruskan niatmu. Pelajari statistik betapa partisipasi pemilih terus menurun. Bisa jadi ini titik kulminasi ketidakpercayaan atas penyelenggara pemilu. Mumpung negara masih memercayakan masyarakat sipil jadi penyelenggara pemilu, jaga amanah itu.

Tabik puunn.......

 

Amiruddin Sormin
Wartawan Utama


Artikel Terkait