Artikel Pilihan Editor

Dituntun Baca Syahadat, Orang Gila di Rajabasa ini Wafat Berlinang Air Mata
Warga saat menuntun orang gila di Jalan Padat Karya, Rajabasa Jaya, wafat, Senin (16/4/2018). LAMPUNGPRO/AMIRUDDIN SORMIN
Warga saat menuntun orang gila di Jalan ...

Dituntun Baca Syahadat, Orang Gila di Rajabasa ini Wafat Berlinang Air Mata

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com): Warga yang melintas dari Jalan Soekarno-Hatta Bypass menuju Jalan Padat Karya, Rajabasa Raya, Bandar Lampung, dikejutkan dengan sesosok pria tertelungkup bersimbah lumpur di genangan air pinggir jalan, Senin (16/4/2018) pukul 16.30 WIB. Spontan warga menuntun pria ini ke rerumputan sekitar empat meter dan mendudukannya di atas karton.

Warga pun mengganti pakaiannya yang basah dan berlumur lumpur. Ada juga yang membawakan teh hangat dan sebungkus nasi. Namun pria yang kemudian diketahui gila ini menepisnya. Nafasnya terengah-engah. Dia tak sanggap lagi duduk, lalu direbahkan di atas kardus. Melihat gelagat tak baik, warga pun menuntunnya membaca kalimat syahadat.

Warga lainnya melantunkan Ayat Kursi. Tak lama berselang air matanya meleleh dari kedua pelupuk mata dan nafasnya lepas dari raga disaksikan belasan warga yang melintas. Innalillahi wa innailahi rajiun. Warga bersama Babinkamtibmas Kelurahan Rajabasa Jaya, Serka Amin Kudsi, kemudian menutup mata dan menyelimutinya dengan kain hijau.

"Dia kami temukan dalam kondisi kaki luka, mungkin karena terbentur," kata Mugni, Ketua RT 01 Lk.2, Keluarahan Rajabasa Jaya yang ikut menyaksikan detik-detik kematian orang gila tersebut. Lampungpro.com tiba di lokasi, saat warga masih membacakan Ayat Kursi.

Ciri-ciri pria bertubuh kurus ini rambut gondrong dan tinggi sekitar 160 cm. Menurut Muhsyin, satpam Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang, yang kantornya bersebelahan dengan lokasi kematian, pria tersebut bernama Bayu. "Setiap ditanya ngakunya Bayu, tapi ngak pernah bilang dari mana berasal," kata Muhsyin.

Warga menduga pria ini sengaja dibuang oleh keluarganya dan ditaruh di sebuah gubuk reot bekas penjual sari tebu di pinggir Jalan Soekarno-Hatta dekat Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang. Dugaan itu, menurut Rodius, pemilik warung di dekat gubuk reot itu, karena tiap hari rutin ada yang antar makanan mulai pagi hingga sore.

"Antar makanannya bergantian, kadang bapak, ibu, dan anak gadis. Kalau yang antar bapak dan ibu, ngasihnya dilempar dari motor atau mobil. Tapi kalau yang gadis, antar makanannya turun dari motor. Setiap saya tanya, pengantar makanan pergi dan ngak jawab," kata Rodius.

Pengantar makanan selalu datang dari Jalan Padat Karya dan orang gila tersebut jika kumat selalu lari ke arah Jalan Padat Karya. Namun tak jauh, lalu dia kembali lagi ke gubuk reot itu. Lantai gubuk yang dibangun di atas parit itu sudah jebol, sehingga kesehariannya tidur di atas meja bekas yang diberi warga.

Pria yang mengaku bernama Bayu ini, menurut Muhsyin bisa berbahasa Jawa dan Indonesia. Dia tinggal di gubuk tersebut sekitar setahun terakhir. "Kami sering memberinya pakaian bahka jaket agar tak kedinginan, tapi selalu dibuang ke got. Makanan yang diberikan juga sering dibuang," kata Muhsyin.

Petugas Polsek Kedaton yang datang ke lokasi pada pukul 17.30 kemudian membawa jenazah ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek. Wawan, warga Pasar Tamim, yang ikut mengurus jenazah mengaku tak tega melihat saat tertelungkup. "Wah, kondisinya benar-benar memprihatinkan," kata Wawan. (PRO1)


Komentar

Artikel Terkait